Monday, August 6, 2012

Aku terdiam saat mendengar kabar itu, berusaha mencari celah bahwa yang dikatakannya bohong. Tak berapa lama Doni datang membawa nampan makan siangnya, dan bergabung dengan kami berdua. Kemudian topic pembicaraan selama makan siang berubah menjadi diskusi pekerjaan Alex dan Doni, aku hanya jadi penonton, maklum kantor ku dan mereka berbeda.
Alex lebih dulu menyelesaikan makan siangnya,  dia harus buru-buru meeting setelah ini.
Tinggalah aku berdua bersama Doni.  Aku memperhatikan Doni, seolah tak percaya dia akan pindah. Padahal pembicaraan tentang karir pekerjaan baru saja kami bahas minggu  saat itu bahkan untuk menjawab target akhir tahun ini apa dia tidak bisa namun tiba-tiba mengambil keputusan untuk berhenti kerja dan melanjutkan studinya  ke luar negeri.
Akhirnya aku tanyakan langsung ke Doni tentang berita yang aku dengar dari Alex. Dia menjawab dengan anggukan serta senyuman dari nya. Aku cukup terkejut, namun akhirnya aku ucapkan selamat juga ke Doni.
Selesai makan siang, kami kembali ke kantor masing-masing. Selama
Berusaha menenangkan hati yang kacau, sama sekali tak bisa fokus atas apa yang aku kerjakan di kantor. Berharap jam kantor segera usai, aku ingin bertemu Doni, aku ingin bertanya alasannya.
Doni seperti biasa menungguku di depan lobby, kami berjalan berdua ke arah stasiun terdekat dan menunggu kereta yang akan mengantarkan pulang. Sepanjang perjalanan aku tidak sanggup bertanya, aku hanya menatap lekat-lekat wajah Doni dan berusaha mencari jawaban dari setiap candaan yang dibuatnya.
Hanya tersisa tiga minggu, dan aku sama sekali tidak bisa fokus dengan apa yang kukerjakan. Kenapa aku membiarkan dia masuk ke kehidupanku, kalau tau akan seperti ini aku acuhkan saja semua tingkah laku manis nya.
Saat aku memilih untuk membuka hati untuknya, arghh.. aku lelah.
Kubenamkan kepala ke bantal,berharap bisa mengeluarkan Doni dari pikiranku, aku ga boleh seperti ini terus.
Seminggu sudah berlalu, dan aku semakin stress. Aku berusaha mencari kesibukan lain, namun nihil.. aku tetap tidak bisa mengeluarkan sosok Doni dari pikiranku, mungkin karena kami masih pulang bersama tiap sore.
Aku meraih tumpukan buku novel yang berjajar rapi di rak, dan aku menemukan jawabannya. Dalam hati aku terus meminta maaf ke Doni, mungkin dia akan merasa aneh dengan perubahan sikapku,  namun ini harus kulakukan demi kebaikan kami berdua.
Cara terbaik untuk tidak merasakan sakit hati adalah dengan tidak mempedulikanmu, meski aku tahu itu sulit, namun harus kulakukan.  Yang aku tau jika kita tetap makan siang dan pulang bersama, akan semakin sulit bagiku untuk mengeluarkan dirimu dari pikiranku.
Jujur sama saja menyakitkannya, namun mungkin ini yang terbaik. 

I keep crying every night, I don’t want to loose every moment with you.
But I’m afraid I can’t let you go.
I know you’re now angry with me, but I thought that’s better. You can leave this country without any heart feeling. You must catch your dream there.
I keep silent until the last day we meet at lobby, and I’m crying again when I leave you.
I keep trying to hide how much I love you, but just being your friend isn’t enough. Sometimes I wish never became so close to you, that way it wouldn’t be as hard saying goodbye to you.
Bye Doni…

0 Comments:

Post a Comment