Sunday, October 30, 2016


gambar diambil dari sini

Nanti makan siang apa ya , pikiran ku sibuk memikirkan menu-menu yang biasa ada di kantin.
Tiba-tiba notifikasi chat menyala, ‘ Bell, kamu sudah nonton Avengers?’
‘Kenapa Sean?’, jawabku.
‘Kata temen-temen ku yang sudah pada nonton,itu film bagus.’
‘Aku sudah nonton kemarin tapi memang ingin nonton lagi , kamu mau nonton?’
‘Iya,tapi jangan weekend ini. Nextweek aja, Jumat ini aku ada janji sama nyokap’
‘haha,iya... Jumat depan aja ya’.

Sean adalah seniorku di kantor baru, orangnya terlalu lugu untuk pria seumuran dia. Tapi cukup pintar, setidaknya dia bisa punya karir yang bagus kalau memang dia mau. Charming, ya dia diberi kelebihan postur tubuh yang bagus serta muka yang lumayan manis bahkan mungkin ada beberapa wanita di kantor ini yang menaruh simpati ke dia, ya siapa tau aja sih.

‘Bell, yuk makan’
‘Makan di mana Sean?’
‘Ke kantin kantor depan, bareng sama  Adit, Ervan juga kok’
‘Ikuutttt...’, dan akhirnya kami makan siang bersama di kantin gedung seberang kantor kami.

****
Buka list chat, klik nama orang yang dituju..
‘Sean..’
‘Yes..’
‘May, I ask you something?’
‘Kenapa Bella..?’
‘Percakapan minggu kemarin, soal nonton itu.. itu artinya kita janjian ya?’
‘Iya,kenapa memangnya? Kamu ga bisa?’
‘Bisa, make sure aja. Soalnya kebetulan Jumat ini aku ada undangan Seminar .. Kalau kita jadi pergi ya undangannya aku tolak.’
‘Jadi kok, nanti kita bahas lagi ya.Kerjaan ku masih banyak’
‘Ok,aku juga. Thanks  Sean J
‘Sama-sama’

Ini AC kantor kenapa dingin banget sih ya, jadi sakit perut gara-gara kedinginan, ujarku dalam hati.

‘Bella..’
‘Apa Sean?’
‘Nontonnya hari ini aja mau ga?’
‘Hah? Sekarang masih Rabu lho?’
‘Iya,kan besok Kamis aku cuti. Malem ini after office hours,how?’
‘Oh ok,aku selesaiin kerjaanku dulu ya Sean’
‘Yap.’

Baiklah,mari kita selesaikan setumpuk invoice ini, ujarku menyemangati diri sendiri. Tumpukan kertas yang tidak pernah habis sepertinya.

‘Bel,aku tunggu di lobi ya’ Sean berbisik padaku.
‘Eh iya..’ ,jawabku sambil berusaha mengatur nafas,karena kaget..

25 menit kemudian pekerjaan ku baru bisa benar-benar selesai.
‘Aku pulang duluan ya’ ,ujarku berpamitan pada rekan kerja yang masiih ada di kantor. Duh, Sean udah nunggu lama ini, sambil panik dan berharap lift bisa turun lebih cepat. Sampai di lobi, namun aku tidak menemukan Sean, oh Sean where are you. BBM, telepon, tidak ada yang dibalas.

‘Bell..’
‘Sean,kamu dari mana..’
‘Habis mindahin parkir mobil’
‘Jadi nontonnya?’
‘Iya,yuk.. jalan dikit gpp ya?’
‘Iya gpp’

Kami berdua jalan cepat menuju mall terdekat, jam-jam pulang kantor itu dimana-mana macet, maka dari itu kami lebih memilih rute jalan kaki daripada harus repot mengeluarkan mobil dan cari parkir lagi. Sampai di loket pembelian tiket, ‘Mba Avengers teather 2 masih ada seat- nya?’
‘Masih,tapi tinggal seat yang ini’
Hanya tersisa seat barisan paling depan, penuh semua.
‘Gimana Sean?’
‘...’
‘Ga usah aja ya Sean,duduk paling depan gitu..kepala pegel’
‘Iya deh, maaf ya mba,kami ga jadi beli’ ,lalu Sean mengajakku keluar bioskop.
‘Kemana kita ya bel?’
‘Jalan –jalan aja yuk, aku mau cari kado juga’
‘Ya udah, sinih..’ , tiba-tiba Sean menggandeng tanganku. Entah kenapa saat itu aku Cuma bisa bengong, sambil bergumam ‘Ini kenapa dia bisa tiba-tiba berani megang, gandeng tangan aku gini ya?.
‘Bell..’
‘Yap?..’
‘Tangan kamu kok dingin banget? Santai aja,tenang..jangan gugup..’
‘Hah? Itu tangan aku dingin kan karena tadi kena AC ‘
‘Sudah,gpp kok.. ga perlu gugup sama aku’
‘Hah?’
Ilfil deh aku ke ini orang, pede banget ya dia .
‘Mau ke mall yang di sana ga? Pindah tempat yuk?’
‘Ayo aja..’
‘Kamu masih kuat jalan kan?’
‘Kuat lah..’
‘Liat bioskop nya juga ya, siapa tau masih ada seat untuk nonton Avengersnya’
‘Iya’

Entah bagaimana,Sean melepaskan genggaman tangannya. Semacam kesel juga sih kenapa gandengan tangannya dilepas, tapi ya sudahlah. Pikiran ku menari-nari ga jelas arahnya. Dan ternyata sama saja,seatnya penuh. Sampai akhirnya,kami berdua memutuskan untuk menonton film lain .

‘Akhirnya nonton..’
‘Memang kamu sudah berapa lama ga nonton Sean?’
‘Berapa lama ya,lupa..terlalu sibuk, belum sempat aja sih’
Diam-diam aku berusaha memperhatikan wajah Sean. Selama ini meski beberapa teman kantor bilang dia menarik,aku malah ga pernah memperhatikannya. Dan sekarang Sean ada di sini,kami kencan nonton,apa kata teman-teman di kantor nanti ya kalau mereka tau hal ini.
Selesai menonton film, kami berjalan lagi menuju gendung kantor.

‘Sean,aku ikut kamu jalan sampai seberang gedung kantor ya. Nanti aku naik taksi nya dari situ aja.’
‘Sudah ga perlu,kamu aku antar saja’
‘hah?gpp? udah malem, bukannya tadi kamu dicariin nyokap?’
‘Gapapa, tadi udah bilang kalau bakal pulang telat kok. Aku antar pulang kamu dulu.’
‘hore..makasih Sean’
Ya siapa sih yang ga senang bisa ngirit uang taksi,hahaha...

****
Besoknya, aku tidak menemukan Sean di kantor. Oh iya, Sean kan cuti hari ini. Rasanya pingin cerita ke seseorang mengenai kejadian semalam,tapi ke siapa...
Ah sudahlah,itu hanya kencan biasa, ga perlu terlalu dihebohkan pikirku..
To be continued..


**
This story had been in my draft since 2012.
I publish it just because I'm kind a person who appreciate a memories.
**

Monday, August 6, 2012

Aku terdiam saat mendengar kabar itu, berusaha mencari celah bahwa yang dikatakannya bohong. Tak berapa lama Doni datang membawa nampan makan siangnya, dan bergabung dengan kami berdua. Kemudian topic pembicaraan selama makan siang berubah menjadi diskusi pekerjaan Alex dan Doni, aku hanya jadi penonton, maklum kantor ku dan mereka berbeda.
Alex lebih dulu menyelesaikan makan siangnya,  dia harus buru-buru meeting setelah ini.
Tinggalah aku berdua bersama Doni.  Aku memperhatikan Doni, seolah tak percaya dia akan pindah. Padahal pembicaraan tentang karir pekerjaan baru saja kami bahas minggu  saat itu bahkan untuk menjawab target akhir tahun ini apa dia tidak bisa namun tiba-tiba mengambil keputusan untuk berhenti kerja dan melanjutkan studinya  ke luar negeri.
Akhirnya aku tanyakan langsung ke Doni tentang berita yang aku dengar dari Alex. Dia menjawab dengan anggukan serta senyuman dari nya. Aku cukup terkejut, namun akhirnya aku ucapkan selamat juga ke Doni.
Selesai makan siang, kami kembali ke kantor masing-masing. Selama
Berusaha menenangkan hati yang kacau, sama sekali tak bisa fokus atas apa yang aku kerjakan di kantor. Berharap jam kantor segera usai, aku ingin bertemu Doni, aku ingin bertanya alasannya.
Doni seperti biasa menungguku di depan lobby, kami berjalan berdua ke arah stasiun terdekat dan menunggu kereta yang akan mengantarkan pulang. Sepanjang perjalanan aku tidak sanggup bertanya, aku hanya menatap lekat-lekat wajah Doni dan berusaha mencari jawaban dari setiap candaan yang dibuatnya.
Hanya tersisa tiga minggu, dan aku sama sekali tidak bisa fokus dengan apa yang kukerjakan. Kenapa aku membiarkan dia masuk ke kehidupanku, kalau tau akan seperti ini aku acuhkan saja semua tingkah laku manis nya.
Saat aku memilih untuk membuka hati untuknya, arghh.. aku lelah.
Kubenamkan kepala ke bantal,berharap bisa mengeluarkan Doni dari pikiranku, aku ga boleh seperti ini terus.
Seminggu sudah berlalu, dan aku semakin stress. Aku berusaha mencari kesibukan lain, namun nihil.. aku tetap tidak bisa mengeluarkan sosok Doni dari pikiranku, mungkin karena kami masih pulang bersama tiap sore.
Aku meraih tumpukan buku novel yang berjajar rapi di rak, dan aku menemukan jawabannya. Dalam hati aku terus meminta maaf ke Doni, mungkin dia akan merasa aneh dengan perubahan sikapku,  namun ini harus kulakukan demi kebaikan kami berdua.
Cara terbaik untuk tidak merasakan sakit hati adalah dengan tidak mempedulikanmu, meski aku tahu itu sulit, namun harus kulakukan.  Yang aku tau jika kita tetap makan siang dan pulang bersama, akan semakin sulit bagiku untuk mengeluarkan dirimu dari pikiranku.
Jujur sama saja menyakitkannya, namun mungkin ini yang terbaik. 

I keep crying every night, I don’t want to loose every moment with you.
But I’m afraid I can’t let you go.
I know you’re now angry with me, but I thought that’s better. You can leave this country without any heart feeling. You must catch your dream there.
I keep silent until the last day we meet at lobby, and I’m crying again when I leave you.
I keep trying to hide how much I love you, but just being your friend isn’t enough. Sometimes I wish never became so close to you, that way it wouldn’t be as hard saying goodbye to you.
Bye Doni…

Thursday, July 19, 2012


 gambar diambil dari google

Hai kamu, apa kabar?
Hampir setengah tahun kita tidak bersua, dan aku masih merindumu.
Hai kamu, apakah kau masih mengingatku?
Hai kamu, apakah kau merindukanku juga?
Hai kamu, aku sedang mendengarkan lagu kesukaanmu lhoh.
Masih ingatkah kau kenangan tentang kita?
Hal bodoh yang tanpa sengaja kita berdua lakukan, saat itu setiap melihat playlist mu, aku berharap lagu itu untukku.
Hai kamu, masih ingatkah kau dengan insiden ‘es podeng’?
Hai kamu, ingin rasanya aku menghapus semua kenangan tentangmu, namun sebagian dari diriku berkata untuk tidak menghapusmu.
Hai kamu, mengapa kau berubah setelah aku menghilangkan tembok pembatas diantara kita?
Hai kamu, aku sudah menerima undangan pernikahanmu. Ya aku sudah menemukan jawaban dari semua pertanyaanku.

Saturday, June 30, 2012




Tempat ini menyisakan kenangan bersamamu
Sofa dan meja masih tersusun sama seperti saat itu
Hari itu baru saja kau dari bandara, lelah badan namun tetap ingin bertemu
Hari itu kesekian kalinya kita pergi berdua
Hari itu kau ajak aku bertemu teman-teman dekatmu
Hari itu kita bisa bergandengan tangan tanpa ada rasa canggung
Hari itu banyak canda tawa bersama denganmu

Tempat ini masih sama seperti hari itu
Hari itu kita bercanda bersama teman-temanmu
Hari itu tanganmu merangkul pundakku

Tempat ini masih saman seperti hari itu
Sofa dan meja masih tersusun sama seperti saat itu
Tempat dan menu yang sama, namun kita sudah tak sama.
Dear .. did you remember this place?
Did you ever feel the same?
Dear, I never regret us.
I regret what we became after all those smile and love that we shared.

Monday, June 25, 2012



Hari ini adalah hari terakhirku di kantor. Namun berat rasanya meninggalkan kantor ini. Aku belum ingin meninggalkannya, dia yang selalu tersenyum ramah, tempatku berkeluh kesah, sandaran ketika lelah.


Berita promosi dan kepindahanku ke Jepang cepat menyebar, bahkan sampai ke dia. Dia tersenyum, bergegas menuju meja ku dan memberikan selamat. Tiga bulan kami dekat, namun aku masih belum berani mengungkapkan perasaanku. Sekarang kami harus berpisah jauh, rasanya ingin aku ajak dia ke Jepang juga.


Hari ini dia masih bersikap acuh, dan aku terlalu takut untuk menanyakan penyebab perubahan sikapnya. Hari semakin sore, masih banyak yang harus aku bereskan. Sesekali ada yang datang untuk mengucapkan selamat dan salam perpisahan. Arghh.. aku hampir tidak bisa berfikir dengan benar, hati dan pikiran saling berebut meminta perhatian. Haruskah aku menghampirinya sekarang?


Tiba-tiba aku dikejutkan dengan nyanyian selamat ulang tahun dari arah belakangku. Nafasku berhenti sesaat, dia ada dihadapanku sekarang, membawakan kue ulang tahun dengan lilin yang menyala, diikuti oleh teman-teman yang lain dibelakangnya.


'Selamat ulang tahun Joe' 
'Makasih ya..', aku tak bisa berhenti tersenyum.
'Make a wish dear, then blow the candle..'


Aku berusaha untuk tenang, membuat permohonan dan meniup lilin-lilin tersebut. Riuh tepuk tangan dan ucapan selamat ulang tahun kembali berdatangan. Dia tersenyum melihatku,dan membelai punggungku.
Sebuah bingkisan yang cukup besar diberikannya kepadaku. Kembali aku tersenyum dibuatnya, rangkaian foto-foto perjalanan terakhir kami, ditata sedemikian rupa dalam sebuah frame. Foto dan kenangan bersamanya ada di sana terangkum cantik. Tak hentinya aku mengucapkan terimakasih, hari ini aku bahagia, terimakasih.


Hari semakin malam, masih tersisa beberapa teman dekat menemaniku di kantor. Hati ini ingin menghampirinya, mengajaknya berbincang lagi, aku merindukannya. Kembali aku dikejutkan ketika dia memegang punggungku dari belakang, dan mencium rambut kepalaku dari belakang. 
'Happy Birthday,Joe. Aku pulang duluan ya, Bye' 
Saat itu aku hanya bisa duduk mematung melihatnya pergi..
-------

Seminggu sudah aku di Jepang, kami kembali saling bersikap dingin. Percakapan diantara kami hanya seputar pekerjaan. Dia kembali menjadi seseorang yang penuh dengan misteri, kadang acuh, kadang bersikap biasa seolah tidak ada hal yang mengganjal diantara kami. Aku pun masih sama, berusaha fokus dengan pekerjaan di sini, dan melepaskan semua kenangan tentang dia. Maaf, hanya itu yang bisa aku ucapkan.





Monday, August 23, 2010

Dek,aku sayang kamu...sungguh..
aku ingin terus bercerita tentang hari-hari ku...
aku ingin terus mendongeng sebelum kamu tidur..
aku ingin selalu menjadi tempat kamu bisa menangis dan tertawa lepas..
aku rindu saat-saat itu...

ah..aku terlalu lama melamun sampai tidak sadar, kamu sudah ada dihadapanku dari tadi..
Kamu yang begitu bersemangat becerita tentang pekerjaan dan dunia mu yang sekarang..

bukan aku tak memperhatikan ceritamu dek...aku hanya berusaha menyimpan lekat-lekat semua memoriku tentangmu..detail setiap ceritamu.. aku rindu masa-masa itu..

Kugenggam tangan mungil itu, aku tertawa melihat mu tertawa..hatiku luluh melihatmu tersenyum.. Dan tiba-tiba air mata ku pun keluar..

Jangan panik dek,bukan salah mu..bukan salahku...
Waktu yang tidak berpihak pada kita berdua, dan aku menyesali keputusan ku dulu..
Saat dirimu sedang belajar untuk menerima ku, ternyata aku malah mulai berpaling dan membuat mu menangis...

Sekarang.. saat aku ingin meminangmu..ternyata sudah ada yang mengisi hatimu..
Tidak ada yang pernah bisa mengisi hari - hari ku seperti dirimu dek..
Tidak ada yang pernah bisa menggantikan posisimu dihatiku..
keegoisan ku saat itu, padahal hanya tinggal sedikit lagi sampai akhirnya kamu mau menerimaku.
Aku menangis karena aku cinta kamu.. namun aku tau dan aku harus siap melihatmu bersanding dipelaminan dengan nya...
ya aku tau saat itu akan segera tiba..
Dan karena itulah kau menemui ku sekarang kan dek?
Aku gak papa dek,hatiku hancur..namun aku senang setidaknya 2 tahun perjuanganku saat itu membuahkan hasil, aku pernah singgah juga kan dihatimu? itu cukup bagiku..
Dek, aku juga berharap dikehidupan yang lain,Tuhan akan beri kita situasi yang berbeda..
ya seperti kata-kata mu itu...
Dan saat itu terjadi, aku berjanji ga akan pernah melepasmu..

Ahh...kenapa air mata ini terus mengalir..
ada rasa sesak di dada, meski aku berusaha ikhlas...
Kugenggam erat tangan itu, ya akan kunikmati detik detik bersamamu..
Senyum mu, tawa mu.. waktu tolong berhenti sejenak.. aku tak mau kereta itu datang dan menjemputku, aku masih ingin bersama bidadari hatiku ini..



1 Agustus 2010
ruang tunggu sebuah stasiun kota

akhirnya update blog ini demi ikutan lomba >.<

;;